DATA CURAH HUJAN ONLINE UNTUK MENDUKUNG PENELITIAN BIDANG HIDROLOGI, GEOHIDROLOGI, DAN GERAKAN TANAH
22.08 in aRTIKEL
DATA CURAH HUJAN ONLINE UNTUK MENDUKUNG PENELITIAN BIDANG HIDROLOGI, GEOHIDROLOGI, DAN GERAKAN TANAH
Oleh : Bambang S Widijono
(Praktisi Geologi)
Anggota komunitas www.rt-net-kapelima.com, warga RT05/RW13 Desa Jatiendah
Kecamatan Cilengkrang
Kab. Bandung
Pendahuluan
Data curah hujan sebagai salah satu data yang dibutuhkan dalam penelitian bidang hidrologi, geohidrologi dan penanganan masalah banjir sudah sering dilakukuan oleh beberapa instansi terkait. Data curah hujan tersebut berasal dari instansi terkait yang menangani masalah curah hujan. Tetapi menurut pengamatan kami data curah hujan tersebut diakses dari suatu alat ukur curah hujan yang belum dapat diakses secara online, sehingga untuk mendapatkan informasi curah hujan tersebut harus ditunggu dakam beberapa selang waktu. Dalam masalah khusus kadangkala dibutuhkan data curah hujan secara realtime, misalnya untuk peringatan dini bencana banjir atau gerakan tanah. Untuk mengatasi masalah ini maka diperlukan suatu alat ukur curah hujan secara online. Alat sensor curah hujan online pertama di Indonesia telah diujicobakan di Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung. Kegiatan ini terlaksana atas kerjasama antara LIPI-Poltekpos Bandung, ww.rt-net-kapelima.com dan Kecamatan Cilengkrang. Alat tersebut dapat merekam data curah hujan dengan radius 30 km. Data curah hujan tersebut dapat diakses secara online melali situs www.rt-net-kapelima.com. Data curah hujan tersebut akurasinya cukup tinggi dengan tingkat kesalahan 3%. Data curah hujan tersebut dapat digunakan untuk mendukung penelitian dalm bidang hidrologi, geohidrologi, dan gerakan tanah.
Penelitian bidang hidrologi
Penelitian ini biasanya dilaksanakan untuk menunjang penelitian bidang pertanian, pengelolaan DAS, perencanaan bendungan, perencanaan pembangkirt listrik mikrohidro dan peramalan banjir.
Pengelolaan DAS biasanya bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kekritisan suatu lahan, dimana curah hujan disumsikan sebagai salah satu faktor penyebab suatu kekritisan suatu lahan. Penelitian ini erat kaitannya dengan penelitian irigasi untuk pertanian dan perawatan bendungan. Data curah hujan pada survey perencanaan bendungan digunakan untuk mengevaluasi volume air maksimal yang dapat dismpan di waduk tersebut , sehingga dapat dipakai sebagai dasar perencanaan alat tutup buka air (perencanaan pintu air). Data curah hujan pada survey pembangkit listrik mikrohidro dipakai sebagai dasar evaluasi sungai, apakah debit sungai tersebut cukup kontinyu sepanjang tahun atau tidak.
Curah hujan juga merupakan salah satu factor penyebab terjadinya banjir di suatu daerah disamping banyak faktor-faktor lainnya. Jadi dengan mengadakan penelitian yang mendalam mengenai penyebab banjir, maka peramalan dan usaha-usaha penanggulangannya dapat dilakukan dengan baik.
Penelitian bidang Geohidrologi
Data curah hujan dibutuhkan pada penelitian potensi air tanah di suatu daerah tertentu. Seperti diketahui bahwa potensi air tanah di suatu daerah dikontrol oleh curah hujan, porositas tanah, vegetasi dan kemiringan lereng serta struktur lapisan pembawa air tanah.
Penelitian bidang Gerakan tanah
Faktor penyebab gerakan tanah adalah curah hujan, kemiringan lereng, strukutur geologi, keaddan batuan, tata guna lahan, dan adanya getaran.
Fakta menunjukan bahwa faktor curah hujan merupakan faktor dominan yang secara umum sebagai pemicu terjadinya gerakan tanah.
Hasil penelitian mendalam mengenai intensitas curah hujan maksimal yang dapat menyebabkan terjadinya gerakan tanah dapat digunakan sebagai acuan untuk peringatan dini bagi masyarakat sekitar lokasi yang diperkirakan akan mengalami bencana alam tersebut.
Saran
Berdasarkan uraian diatas maka disarankan instansi yang berwewenang untuk memasang alat sensor curah hujan online di sekitar daerah rencana penelitian. Sistem pelaksanaannya dapat mengacu model seperti yang sudah dilakukan oleh kerjasama antara LIPI-POLTEKPOS BANDUNG, KOMUNITAS WWW.RT-NET-KAPELIMA.COM DAN KEC. CILENGKRANG, KABUPATEN BANDUNG
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KESUBURAN DAN KESEHATAN TANAH
22.05 in Laporan Praktikum
LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM KESUBURAN DAN KESEHATAN TANAH
”PENGARUH PEMBERIAN PUPUK KCL PADA TANAMAN JAGUNG
OLEH
NAMA : IDU YHAW AMIR P
NIM : 0506111298
Prodi : ILMU TANAH
LABORATORIUM ILMU TANAH
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN PROGRAM STUDI ILMU TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2008
KATA PENGANTAR
Hanya kepada Allah SWT, tuhan semesta alam, yang maha pengasih dan maha penyayang, hamba Nya ini bersyukur. Berkat rahmat dan karunia Nya yang sangat besar diberikan kepada para hambanya, sehingga dapat diseleseikan laporan akhir praktikum kesuburan dan kesehatan tanah yang di asuh oleh ibu dosen Ir. Wardati, Msc dan Ir. Gusmawartati, MP.
Laporan akhir praktikum mata kuliah kesuburan dan kesehatan tanah ini harus di selesaikan oleh penulis untuk melengkapi tugas, supaya nantinya tidak ada permasalahan sewaktu pemberian nilai. Dan laporan ini di buat oleh seluruh mahasiswa uyang mengambil mata kuliah kesuburan dan kesehatan tanah, program studi ilmu tanah.
Didalam laporan ini terdapat hasil pengamatan beberapa komponen pertumbuhan tanaman Jagung manis yang diberi pupuk P dan K. Selain itu juga berisiskan teori teori yang mendukung hasil pengamatan dan teori-teori itu didapat dari literatur-literatur yang diperoleh dari berbagai sumber.
Penulis menyadari, laporan ini sangat banyak kekurangannya disana sini, oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat dinantikan oleh penulis, untuk perubahan ke yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.
Akhirnya, besar harapan penulis laporan ini dapat menambah nilai semester penulis dan sebagai sumber imformasi bagi masyarakat kampus khususnya dan masyarakat awam umumnya.
Pekanbaru, 17 Januari 2008
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
TUJUAN
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
TANAMAN JAGUNG
KALIUM
BABA III BAHAN dan METODE
WAKTUdan TEMPAT
BAHAN dan ALAT
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
PENGAMATAN
BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN
KEBUTUHAN PUPUK
KADAR AIR TANAH
TINGGI TANAMAN
LINGKAR BATANG
BANYAK DAUN
PANJANG AKAR dan JUMLAH DAUN
BERAT BASAH daN BERAT KERING AKAR
BARAT BASAH dan BERAT KERING DAUN
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. 1 Latar Belakang
Untuk mengetahui pertumbuhan suatu tanaman perlu dilakukan pengamatan untuk mengetahui dan pengukuran terhadap suatu tanaman. Dengan melakukan pengamatan dan pengukuran dapat diketahui sejauh mana respon tanaman terhadap perlakuan.
Dengan memberikan perlakuan yang berbeda tentu hasil diperoleh juga berbeda, misalnya dengan mmberikan Kalium dengan dosis yang berbeda beda, tentu menghasilkan pertumbuhan yang berbeda pula.
Peranan utama Kalium dalam tanah ialah sebagai aktivator berbagai enzim. Dengan adanya kalium tersedia dalam tanah menyebabkan :
Dapat mengurangi pengaruh kematangan yang dipercepat oleh fospor
Merangsang pertumbuhan akar
memperbaiki kualitas bulir
mampu mengatasi kekurangan air pada tingkat tertentu
ketegaran tanaman terjamin
tanaman lebih tahan terhadap hama dan penyakit
Sedangkan kekurangan Kalium dapat menyebabkan :
munculnya bercak coklat pada bagian yang bearna hijau gelap
menghambat pembentukan hidrat arang paa biji
permukaan daun memperlihatkan gejala kloritik yang tidak merata
daun terlihat kering dan terbakar pada tepinya
pertumbuhannya kerdil
ketika tanaman mengalami pertumbuhan yang tidak normal, salah satu kemungkinan terbesar adalah kekurangan unsur hara, ataupun kekurangan faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Dan kalau kelebihan jga bisa berakibat buruk bagi tanaman, ini mengakibatkanya keracunan. Gejala gejala yang tampak bisa diamati secara langsung, seperti bintik yang terdapat di daun.
A.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk K terhadap pertumbuhan tanaman Jagung.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.Tanaman Jagung
Jagung (zeamays), merupaan famili graminae, adalah tanaman semusim berbentuk rumput. Tumbuhnya tegak, daun berbentuk pita, batang bewarna hijau, berbentuk bulat dengan penempang melintang 2 - 2,5 cm. Tinggi tanaman bervariasi antara 125 – 250 cm dan batangnya berbuku-buku yang dibatasi oleh ruas-ruas (suprapto, 1999).
Bunga jantan berbentuk bulir yang berkumpul pada ujung tanaman yang disebut malay, bunga betina terletak pada ketiak daun juga disebut tongkol. Tanaman jagung berbiji monokotil dan tersusun pada tongkol (Effendi dan Nursulistiati, 1991).
Perakaran jagung terdiri atas akar primer, akar lateral, akar horizontal dan akar udara. Akar primer adalah akar yang pertama kali muncul pada saat biji berkecambah dan tumbuh. Akar lateral merupakan akar yang memanjang kesamping. Akar udara adalah akar yang tumbuh dari bulu bulu diatas permkaan tanah (Danarti dan Najiyati, 2000)
Tanaman jagung termasuk tanaman semusim (annual) yang mempunyai akar rambut yang menyebar kesamping dan kebawah pada lapisan tanah sepanjang 25 cm.
Dalam sistem taksonomi tumbuhan, tanaman Jagung diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom Plantae, Divisio spermatophyta, sub divisio angiospermae, kelas monocotyledone, ordo pales (glumiflorae), famili Poaceae (graminae), genus zea dan spesies Zeamays L (Rukmana, 1997).
B. Kalium
Selain Nitrogen dan Fospor, Kalium adalah salah satu unsur hara yang terbatas di dalam tanah, justru itu dibutuhkan penambahn melalui pemupukan. Jika Kalium didalam tanah tidak bisa memenuhi kebutuhan tanaman maka pertumbuhan tanaman akan terhambat dan reprodiksinya akan rendah (hakim dkk, 1986). Tanaman yang kekurangan K daunya akan mengerut, terutama pada daun tua tetapi tidak merata. Akan timbul bercak bercak merah kecoklatan pada daun yang kemudian mengering dan mati (irawan, 2001).
Menurut Harjowigeno (2002), kekurangan unsur hara K dapat mengakibatkan ruas tanaman jagung memendek dan tanaman tidak akan tinggi, pinggir daun bwarna coklat yang dimulai dari daun tua.
Kebutuhan pupuk K sangat perlu dalam memacu pertumbuhan tanaman pangan dan perkebunan karena kekurangan unsur ini akan mengakibatkan tanaman mudah rebah sehingga produksi dan kualitas menurun dan translokasi menekan.
BAB III
BAHAN DAN METODE
A. Tempat dan Waktu
Praktikum dilaksanakan di laboratorium ilmu tanah, fakultas pertanian, universitas riau pada bulan Desember 2007 sampai dengan Januari 2008.
B. Bahan dan Alat
-Bahan : -Alat :
1) tanah 1. polybag
2) pupuk KCL 2. cangkul
3) bibit Jagung 3. timbangan biasa
4) air 4. timbangan analitik
5. oven
6. amplop
7. gunting & pisau cutter
8. karton & alat tulis
C. Pelaksanaan Praktikum
a. persiapan lahan
apa saja yang berkaitan dengan raktikm hartus d bershkan terlebih dahulu, misalnya tempat praktikum harus bersih dari gulma, dan ratakan tempat nya karena nantnyapolybagakan mudah diletakkan.
b. persiapan medium
adapun daam raktikum inimengnakan tanah mineral, tanah dbersihkandari alang-alang, dimasukka ke dala polybag, masing masing polybag berattananya 10 kg.
c. penanaman
masukanbenihJagng yag telah direndam ke dalam anah ag berada dalam polbag, masing masing plybag diisikan 3 biji benih jagung.
d. pemeliharaan
langkah langkah pemeliharaannya adalah sebagai berikut :
I. pemupkan
dalam praktikum ini menggunakan pupuk KCL dengan dosis 0,75 kg /1 kg tanah,pemberian pupuk dengan cara menyebar merata diermukaan tanah.
II. Penyiraman
Dilakukan setiap hari tergantung kelembapan tanah, penyiraman berfungsi untuk memenuhi ketersediaan air bagianaman.
III. Penjarangan
Setelah tanaman berumur sau min dilakukan penjarangan, dengan cara meninggalkan satu tanaman yang tmb sehat dan bagus dalam polybag.
IV. Penyisipan
Ketka tanaman ada yang tidak tumbuh, maka perlu dilakukan penyisipan sehinga tidak merusak tanaman yang lain.
V. Penyiangan
Apabila didalam plibag terdapat/ dtumbuhi gulma segera dibersihkan, denga cara mencabut gulmadengan tangan.
e.pengamatan
yang perlu diamati adalah :
1) Tinggi tanaman
Pengukuran tanaman dilakukan dimulai dari pangkal leher akar sampai ujung daun yang paling panjang.
2) Jumlah helai daun
Setelah tanaman berumur satu (1) minggu perhitungan lalu dimulai, yang di hitung adalah daun yang telah membuka secara sempurna dan terihat bagian bagian daunnya.
3) Lingkar batang
Pengukuran lingkar batang dilakukan setelah tanaman bermur satu minggu, pengukurannya dlakukan pada batang bagian di bawah daun pertama.
4) Berat kering tanaman dan berat kering akar
Untuk mengukur berat kering akar tanaman dengan memasukkan akar tanaman kedalam oven selama 2 x 24 jam pada suhu 105o C, kemudian di timbang.
BAB IV
HASIL DAN PENGAMATAN
1. Kebutuhan pupuk
Pupuk KCL = x 150 kg
=
= 0,75 gr
Di peroleh kebutuhan pupuk KCL 0,75 gr/10 kg tanah, penghitungan ini dilakukan supaya tidak terjadi kelebihan dan kekurang dosis pemupukan
2. kadar air tanah basah
berat basah = 1 gr
berat kering = 7,98 gr
% kadar air = x 100 %
= x 100 %
= x 100 %
= 0,25 x 100 % = 25 %
Kadar air tanah yang sudah dikeringkan :
Berat basah = 10 gr
Berat kering = 7,98 gr
% kadar air = = 100 %
= =x100 %
= 0,04 x 100 %
= 4 %
Dari hasilk pengukuran kadar air ini kita dapat mengetahui kandungan air di dalam tanah.
3. Tinggi tanaman
Diperoleh dari hasil pengamatan bahwa pemberian 0,75 gr pupuk KCl
Ahad Tinggi tanaman
1 2 3* 4 5* 6 7* 8 9
I 17,2 17,8 14,2* 16,0 16,0* 16,0 13,5* 19,5 2,08
II 39 45,4 44* 47 58,5* 52 68,5* 41,4 44,8
III 54 50 58* 58 62* 54,7 54,7* 55 64
Ket: * kontrol
Terlihat dari tabel bahwa tinggi tanaman Jagung pada minggu pertama dan minggu ke dua menunjukkan peningkatan sedangkan pada minggu ke tiga mengalami penurunun, ini di akibatkan suplai unsur hara yang belum sempurna untuk penembahan tinggi pertumbuhan tinggi tanaman.
4. Lingkar Batang
Ahad Tinggi tanaman
1 2 3* 4 5* 6 7* 8 9
I 1,5 1,5 1,0* 1,3 1,1* 1,2 1,0* 1,2 1,2
II 2,9 2,1 2,4* 2,3 2,6* 2,0 4,2* 2,8 3,6
III 3 3 3* 2,5 2,8* 1,3 2,8* 3 4,2
Ket: * kontrol
Pada minggu ke tiga terlihat penurunan pada tanaman yang tidak diberi pupuk K, ini membuktikan bahwa tanaman itu kekurangan unsur K, sedang pada tanaman yang diberi pupuk K terlihat penambahan lingkar batang.
5. Banyak Daun
Ahad Tingi tanaman
1 2 3* 4 5* 6 7* 8 9
I 3 3 3* 3 3* 3 3* 4 3
II 5 3 6* 5 5* 5 7* 5 6
III 3 3 3* 4 4* 4 4* 4 4
Ket: * kontrol
Unsur K mempunyai fungsi penting dalam proses metabolisme dan mempunyai pengaruh pernafasan, transfirasi , kerja enzim, dan translokasi karbohidrat (Hakim dkk, 1986).
6. panjang akar dan jumlah akar
polybag Panjang akar Jumlah akar
1 57 13
2 36 11
3 45* 12*
4 115 13
5 56* 18*
6 56 18
7 52* 16*
8 57 16
9 60 20
Ket: * kontrol
Unsur K mempunyai fungsi penting dalam proses fisiologi tanaman, kalium berperan dalam proses metabolisme dan mempunyai pengaruh khusus dalam absorbsi unsur hara, pengaturan, pernafasan, transpirasi, kerja enzim dan translokasi karbohidrat (Hakim dkk, 1986).
7. berat basah dan berat kering akar
polybag Panjang akar Jumlah akar
1 3,2 0,6
2 2,5 0,4
3 3,4* 0,6*
4 3,9 0,9
5 5,0* 1,0*
6 2,9 0,7
7 3,0* 0,6*
8 4,4 0,9
9 10,2 2,9
Ket: * kontrol
Berat basah dan berat kering daun
polybag Panjang akar Jumlah akar
1 10,4 1,9
2 10,6 1,7
3 11,1* 2,3*
4 10,2 2,1
5 10,2* 2,1*
6 8,3 1,8
7 9,3* 1,9*
8 13,0 2,6
9 27,3 5,2
Ket: * kontol
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa pemberian pupuk K berpengaruh terhadap berat kering tanaman Jagung dimana pada tanaman yang diberi K berat basah dan berat keringnya tinggi, baik pada akar ataupun daunnya, hal ini berbanding terbalik dengan kontrol.
Unsur K yang diberikan melalui pupuk KCL merupakan salah satu unsur yang digunakan untuk metabolisme pada organ tanaman sehingga akan memepengruhi pertumbuhan akar tanaman.
KESIMPULAN
Setelah melakukan percobaan ini dapat disimpulkan bahwa pe,berian pupuk KCL dapat memberikan pengaruh terhadap tinggi tanaman, lingkar batang, dan jumlah daun, namun pada minggu ketiga mengalami penurunan hal ini disebabkan karena tanaman Jagung kekurangan unsur hara yang lain yang tidak diberikan.
Ketika dilihat jumlah akar pada tanaman Jagung yang diberikan perlakuan dan yang tidak diberikan perlakuan terdapat perbedaan panjang, yang diberikan perlakuan akarnya akan lebih panjang, karena K merangsang pertumbuhan akar.
Supanya tumbuhan tumbuh dengan maksimal seharusnya diberikan unsur hara yang lengkap ataupun nutrisi yang lengkap, baik itu unsur hara mikro maupun makro.
DAFTAR PUSTAKA
Hakim, Nurhayati dkk, 1986. dasar-dasar ilmu tanah. Universitas Lampung press.
Lampung.
Hanbafiah, Kemas Ali. 2004. dasar-dasar ilmu tanah. PT Raja Grafindo persada.
Jakarta.
Mas’ud, poerwowidodo, 1993. telaah kesuburan tanah, Angkasa Bandung.
Sayarif, S. 2002. pemanfaatan Amelioran Untuk meningkatkan Efisiensi pemupukan Kalium , proseding seminar hasil penelitian ilmu-ilmu pertanian. BKS PTN BARAT.
Winarso, Sugeng. 2003, kesuburan Tanah dasar kesehatandan kualitas tanah.
Gava media. Jigjakarta.
LAPORAN PRAKTIKUM SURVEY TANAH DAN EVALUASI LAHAN
22.04 in Laporan Praktikum
Laporan akhir :
LAPORAN PRAKTIKUM SURVEY TANAH DAN EVALUASI LAHAN
Oleh :
IDU YHAW AMIR P
0506111298
PROGRAM STUDI ILMU TANAH
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2008
Pendahuluan
Banyak sekali masalah yang ditemui dalam upaya peningkatan produksi pertanian. Hal ini eat hubungannya dengan lahan yang semula berfungsi sebagai factor produksi pertanian kini berubah menjadi daerah industry,perumahan ,jalan, sebagai akibat kemajuan teknologi dan laju pertumbuhan penduduk. Sebagai mdia penenliti dan praktikum Unit pelaksana Teknis (UPT) kebun Percobaan Fakultas Pertanian Unri, sudah saatnya memikirkan usaha untuk peningkatan produksi pertanian. Langkah awak yang perlu dilakukan menunjang program ini adalah menindentifikasi karakteristik lahan.
Utuk keperluan perencanaan pembangunan dan pengembangan pertania, data karakterisitik lahan seperti iklim, tanah dan sifat lingkungan, fisik lainnya yang berpengaruh terhadap pertumbuha tanaman serta terhadap aspek manajemennnya perlu melalu kegiatan evaluasi lahan. Hasil evaluasi lahan ibni akan memberikan imformasi dan penggunaan lahan yang sesuai dengan pengembangan tertentu.
Penelitian ini bertujuan menediakan data base tentang klasifikasi tanah sampai kategori family dan kelas kesesuaian lahan untuk tanaman kelapa sawit, rambutan, jagung.
Bahan dan Metode
Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 24 mei 2008 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Unri.
a. Indentifikasi karakteristik lahan
Kebun percobaan Faperta termasuk pada fisiografi dataran datar denga bahan induk tanah berasal dari bahan endapan sungai resen. Lokasi penelitian terletak antara ketinggian antara 23-32 m dpl, dengan keadaan tofografi datar (0-3%) dan luas lahan 16,5 ha. Pada kondisi ini dapat di asumsikan pola penyebaran tanah homogeny.
b. Klasifikasi tanah
Indentifikasi pada klasifikasi tanah dilakukan dengan cara melakukan pengamatan morfologi lahan, profil, dan pengambilan contoh tanah.
c. Evaluasi kesesuaian lahan
Sistimnya mengikuti metoda atlas format procedure (csr/fao staff,1993) dengan beberapa modifikasi dari petunjuk teknis evaluasi lahan. Kesesuaian lahan dapat dibedakan 5 kelas, yaitu S1 (sangat sesuai), S2 (cukup sesuai), S3 (sesuai marginal), N1 (tidak sesuai), N2 (tidak sesuai permanan). Penilaian kesesuain lahan dilskukan dalam keadaan actual dan potensial. Kesesuaian lahan aktual dalah kesesuaian lahan yang dihasilkan berdasarkan data yang ada, belum mempertimbangkan asumsi atau usaha perbaikan dan tingkat pengelolaan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala atau factor pembatas yang terdapat dilokasi penelitian. Kesesuaian lahan potensial adalah menyatakan kedaan lahan yang akan dicapai apabila dilakukan usaha perbaikan. Usaha perbaikan tersebut adalh memperhatikan aspek ekonomisnya.
Hasil dan pembahasan
Iklim
Table rata-rata curah hujan, hari hujan, persentase curah hujan dan evaporasi di kebun percobaan fkultas Pertanian Unri.
Bulan BMG (1996-2000)
CH (mm) HH(hari) Evaporasi (mm/bln)
Januari 179.4 17.4 145.7
Februari 119.9 15.4 176.9
Maret 245.6 17.8 201.5
April 275.7 18.6 171.0
Mei 226.1 14.0 179.8
Juni 153.7 13.8 192.2
Juli 142.9 10.2 192.2
Agustus 194.5 15.5 167.4
September 168.0 14.2 141.0
Oktober 288.2 18.7 164.7
November 244.6 17.0 189.0
Desember 197.8 20.7 161.2
Jumlah 2463.3 193.3 2064
Rata-rata 203.0 16.1 172
Rata-rata curah hujan, hari hujan, dan evaporasi menurut stasiun Badan Meteorology dan Geofisika (BMG) Simpang Tiga Pekanbaru yang disajikan pada table 9. Curah Hujan dilokasi praktikum berpola bimodial yaitu mengalami dua puncak curah hujanyang tertinggi. Pada data iklim BMG (1999-2000) curah hujan rata-rata bulasna tertinggi terjadi pada bulan april sebesar 275.5 mm dan bulan oktober 119.9 mm. curah hujan tahunan adalah sebesar 2463.3 mm dan curah hujan rata-rata bulanan dalah sebesar 2003.0 mm.
Data temperature, kelembapan udara, penyinaran matahari dan kecepatan angin berdarkan pengamatan stasiun BMG Simpang Tiga Pekanbaru (1993) dapat dilihat pada table 10. Temperature rata-rata bulanan berfluiktuasi antara27.8 oC pada bulan Mei dan 26.2 oC pada bulan januari. Sedangkan kelembapan udara cukuyp tinggi, yakni > 80%. Kelembaban udarah terendah terjadi pada bulan Juli sebesar 79.6 dan kelembapan udara tertinggi terjadi pada bulan Desember sebesar 83.7%. ini dan intensitas penyinaran matahari dapat dilihay pada table dibawah.
bulan temperatur kelembapan Intensitas matahari Kecepatan angin
oC (%) (%) knot
Januari 26,2 83,2 43,8 6,8
Februari 26,8 79,8 54,4 7,4
Maret 27,0 81,8 53,0 9,2
april 27,2 81,6 60,8 7,8
Mei 27,8 80,8 68,0 7,0
Juni 27,1 80,8 58,2 7,2
Juli 27,2 79,6 66,0 7,6
Agustus 26,8 81,7 54,7 7,0
September 26,5 83,0 41,6 7,5
Oktober 26,8 81,7 44,4 7,0
November 26,9 80,7 58,5 8,0
Desember 26,5 83,7 50,0 7,7
Rata-rata 26,9 81,4 54,4 7,5
Table temperature, keembapan, intensitas matahari, kecepatan angin di kebun percobaan.
Tipe Iklim
Menurut klasifikasi iklim yang dikemukakan oleh Oldemen (1979) iklim lokasi praktikum tergolong pada zona agroklimat D1 dengan bulan basah berturut-turut 3-4 bulan dan kering berturut-turut < 2 bulan.
jenis Tanah
Kode profil tanah: EAB, lokasi: -, bahan induk: endapan sungai (aluvium), fisiogrfi: dataran alluvial. Topografi: datar 0-3 %, elevasi10 dpl, drainase baik, tekstur: berlempung kasar, agak halus, penggunaan kahan: kebun percobaan, vegetasi: pinang, kelapa sawit, jambu, jeruk, nanas, buah naga, mangga, akasia, alang-alang, perdu, paku resam,. Epipedon: okhrik, sifat p[enciri: kambik,. Klasifikasi: fluventic Dysturdepts, berlempung kasar, campuran, isohipertamik.
horizon Kedalaman (cm) Uraian
A 0-11 Hitam (10 YR 3/1: lembap) debu, gembur (lembap), perakaran sedikit, batas horizon jelas rata.
A/B 11-33 Pale Yellow (2,5 Y 7/2: lembap), lempung berdebu, agak lembur (lembap), perakaran banyak, batas horizon baur rata
Bw 33-42 Kuning (2,5 Y 8/5: lembap), liat, teguh (lembap), perakran sedikit, batas horizon baur rata, nortling
Bc >42 Kuning terang (5 Y 7/3: lembap), kondisinya lembap, sangat teguh (lembap), perakaran tidakada
kesuburan tanah
Kesuburan tanah merupakan kkualitas tanah atau kemampuan tanah menjaga tersedian dan keseimbangan unsure hara serta unsure yang meracun dalam tanah yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Berdaasarkan hasil analisa tanah, kesuburan tanah kebun percobaan UPT tergolong sedang. Tanah bereaksi masam dengan kejenuhan bas yang rendah mengakibatkan ketersediaan unsure hara menjadi berkurang. Ini dapa dilihat pada table 7.
Fisika tanah
Table sifat-sifat Tanah
Sifat fisik satuan Kedalaman tanah
0-40 40-60
Kadar Air Kapasitas Lapang (KKL) %vol 44,16 47,56
Bulk Density (BD) g/cc 0,96 0,94
Total porositas %vol 63,37 64,53
Kadar Air (KA) pF 1 %vol 58,37 60,63
pF2 46,18 48,22
pF 2,54 41,38 43,24
pF 4,2 26,30 27,73
Pori Drainase Cepat %vol 17,59 16,31
Lambat 4,80 4,96
Air tersedia %vol 15,08 15,51
Permeabilitas Cm/jam 5,47 8,21
SIFAT FISIK TANAH banyak berhubungan dengan massa pendapatan, cair dan gas yang menentukan terhasap kesuburan tanah. Sifat kimia dan biologi yang baik tisdak akan berarti jika tidak didukung oleh sifat fisik yang baik, hal ini dapat dilihat pada table 13 hasil analisis sifat fisik tanah kebun percobaan UPT Fakultas Pertanian Unri.
Evaluasi kesesuaiaan lahan
Table kesesuaian lahan untuk kelapa sawit (Ks), Rambutan (Rm), Jagung (Jg)
Karakteristik lahan Nilai data Rating dan kelaas kesuaian lahan
aktual perbaikan potensial
Ks Rm Jg Ks Rm Jg Ks Rm Jg
Suhu 26,9 oC S1 S1 S1 - S1 S1 S2
Bulan kering <100 cm - - - - - -
Curah hujan 2463,3 mm S1 S1 S1 S1 S1 S1
Drainase Baik S1 S1 S1 S1 S1 S1
Tekstur Agak halus S2 S1 S2 - - S2 S1 S2
Kedalaman efektif 150 cm S1 S1 S1 S1 S1 S1
KTK Sedang S1 S1 S1 S1 S1 S1
pH 5,43 S2 S1 S1 + S1 S1 S1
N Total 0,42% - - S1 - - S1
P2O5 17,58 ppm - - S3 ++ - - S1
K2O 0,27 me/100g - - S1 - - S1
Lereng 0-3% S1 S1 S1 S1 S1 S1
Persyaratan penggunaan lahan (Deptan Biro Perencanaan, Jakarata 1997)
Keterangan : - tidak dapat dilakukanperbaikan
+ perbaikan dengan pengapuran, pemupukan dan irigasi untuk dapat menaikkan kelas satu itngkat.
++ perbaikan dengan pengapuran dan pemupukan untuk dapat menaikkan kelas 2 tinbgkat.
Untuk tanaman kel;apa sawit (Elaeis Guinennsis), pengapuran dan pemupukan dapat dilakuakn pada karakteristik lana pH dari kondisi actual S2 menjadi kondisi potensial S1. Akkan tetpi karakrteristik terkstur sehingga kelas kesuaian lahan menjadi S2 pada kondisiaktual dan potensial. Dengan demikian hasil evaluasi kesesuaiaan lahan akhir untuk tanaman kelapa sawit didaerah praktikum adalah S2r2 (kelas S2 dengan factor pembatas tektur)
Untuk tanaman rambutan (nephelium lappacum LINN), tidak ada dilakukan perbaikan sehingga kondisi actual dengan potensial sama.
Untuk tanaman jagung (zea mays) pengapuran dan pemupukan dapat dilakukan pada karakteristik lahan P2O5 dari kondisi actual S3 menjadi kondisi potensial S1. Akan tetapi karakteristik tekstur dan temperature sehingga kelas kesesuaian lahan menjadi S2 pada kondisi actual dan potensial. Dengan demikian hasil evaluasi kesesuaian lahan akhir untuk tanaman kelapa sawit didaerah praktikum dalah S2rt2 (kelas S2 dengan factor pembatas tekstur)
Kesimpulan dan Saran
5.1 kesimpulan
1. jenis tanah kebun percobaan UPT fakultas pertanian Unri menurut actual taksonomi tanah (soil survey staff, 1998) pada kategori family : Fluventic Dystrudepts, berlempung kasar, campuran, isohipertamik.
2. hasil evaluasi untuk tanaman kelapa sawit, rambutan dan jagung dikebun percobaan UPT fakultas pertanian Unri yang dinyatakan dalam kondisi actual dan potensial.
Tabel 14. Kesimpulan dari kelas kesesuaian lahan untuk tanaman kelapa sawit, rambutan, dan jagung.
Jenis tanaman Kelas kesesuaian lahan
aktual perbaikan Potensial
Kelapa sawit
Rambutan
jagung S2rt-2
-
S3n-2 Pengapuran
-
Pengapuaran & pemupukan S2r-2
-
S2tr-2
Keterangan: n : pembatas ketersediaan hara
R: pembatas kondisi perakaran
F: pembatas retensi unsure hara
T: pembatas regim temperature
5.2 saran
Untuk merobah kesesuaian lahan actual menjadi potensial sebaiknya dilakukan perbaikan-perbaikan dengan cara pengapuran, pemupukan dan irigasi untuk menaikkan kelas kesatu tingkat maupun kedua tingkat.
Lampiran I
Persyaratan penggunaan lahan untuk tanaman kelapa sawit (Elaeis guinennsis)
Persyaratan penggunaan/karakteristik lahan Kelas kesuaian lahan
S1 S2 S3 N
Suhu (tc)
Suhu tahuanan rata-rata (oC)
25-28
22-25
28-32
20-22
32-35
<20
>35
Ketersediaan air (wa)
Curah hujan (cm)
Curah hujan (cm)
Lama bulan kering (bln)
1700-2500
<2
1450-1700
2500-3500
1250-1450
3500-4000
<1250
>4000
>4
Ketersediaan oksigen (oa)
Kelas drainase Baik,agak baik Agak terhambat Terhambat agak cepat Sangat terhambat cepat
Media perakaran (rc)
Tekstur
Bahan kasar (%)
Kedalaman tanah (cm)
Gambut:
Ketebalan (cm)
+dengan sisipan/pengkayaan
pematangan
H, s
<15
>100
<60
<140
Saprik +
Ah
15-35
50-100
60-140
140-200
Saprik hemik +
Ak
35-55
25-50
140-200
200-400
Hemik fibrik +
K
>55
<25
>200
>400
fibrik
Resensi Hara (nr)
KTK liat (emol)
Kejenuhan basa (%)
pH H2O
C-Organik
>16
>20
5,0-6,5
>8
≤16
≤20
4,2-5,0
≤0,8
<4,2
Toksisitas (xc)
Salinitas (ds/m)
<2
2-3
3-4
>4
Bahaya sulfidik (xs)
Kedalaman sulfidik (cm)
>125
100-125
60-100
<60
Bahaya erosi (eh)
Lereng (%)
Bahaya erosi
<8
sr
8-16
r-sd
16-30
b
>30
sc
Bahay banjir (fh)
genangan
F0
F1
F2
>F3
Penyiapan lahan (lp)
Batuan dipermukaan (%)
Singkapan batuan(%)
<5
<5
5-15
5-15
15-40
15-25
>40
>25
Keterangan tekstur: h=halus, ah= agak halus, s:=sedang, ak=agak, kasar, k=kasar
Bahaya erosi: sr=sangat ringan, r=ringan, s=sedang, b=berat, sb=sangat berat
SIKLUS BATUAN
22.00 in BatuanROCK CYCLE / SIKLUS BATUAN
Sebelumnya kita sudah tahu bahwa di bumi ada tiga jenis batuan yaitu batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf. Ketiga batuan tersebut dapat berubah menjadi batuan metamorf tetapi ketiganya juga bisa berubah menjadi batuan lainnya. Semua batuan akan mengalami pelapukan dan erosi menjadi partikel-partikel atau pecahan-pecahan yang lebih kecil yang akhirnya juga bisa membentuk batuan sedimen. Batuan juga bisa melebur atau meleleh menjadi magma dan kemudian kembali menjadi batuan beku. Kesemuanya ini disebut siklus batuan atau ROCK CYCLE.
Semua batuan yang ada di permukaan bumi akan mengalami pelapukan. Penyebab pelapukan tersebut ada 3 macam:
1. Pelapukan secara fisika: perubahan suhu dari panas ke dingin akan membuat batuan mengalami perubahan. Hujan pun juga dapat membuat rekahan-rekahan yang ada di batuan menjadi berkembang sehingga proses-proses fisika tersebut dapat membuat batuan pecah menjadi bagian yang lebih kecil lagi.
2. Pelapukan secara kimia: beberapa jenis larutan kimia dapat bereaksi dengan batuan seperti contohnya larutan HCl akan bereaksi dengan batu gamping. Bahkan air pun dapat bereaksi melarutan beberapa jenis batuan. Salah satu contoh yang nyata adalah “hujan asam” yang sangat mempengaruhi terjadinya pelapukan secara kimia.
3. Pelapukan secara biologi: Selain pelapukan yang terjadi akibat proses fisikan dan kimia, salah satu pelapukan yang dapat terjadi adalah pelapukan secara biologi. Salah satu contohnya adalah pelapukan yang disebabkan oleh gangguan dari akar tanaman yang cukup besar. Akar-akar tanaman yang besar ini mampu membuat rekahan-rekahan di batuan dan akhirnya dapat memecah batuan menjadi bagian yang lebih kecil lagi.
Setelah batuan mengalami pelapukan, batuan-batuan tersebut akan pecah menjadi bagian yang lebih kecil lagi sehingga mudah untuk berpindah tempat. Berpindahnya tempat dari partikel-partikel kecil ini disebut erosi. Proses erosi ini dapat terjadi melalui beberapa cara:
1. Akibat grafitasi: akibat adanya grafitasi bumi maka pecahan batuan yang ada bisa langsung jatuh ke permukaan tanah atau menggelinding melalui tebing sampai akhirnya terkumpul di permukaan tanah.
2. Akibat air: air yang melewati pecahan-pecahan kecil batuan yang ada dapat mengangkut pecahan tersebut dari satu tempat ke tempat yang lain. Salah satu contoh yang dapat diamati dengan jelas adalah peranan sungai dalam mengangkut pecahan-pecahan batuan yang kecil ini.
3. Akibat angin: selain air, angin pun dapat mengangkut pecahan-pecahan batuan yang kecil ukurannya seperti halnya yang saat ini terjadi di daerah gurun.
4. Akibat glasier: sungai es atau yang sering disebut glasier seperti yang ada di Alaska sekarang juga mampu memindahkan pecahan-pecahan batuan yang ada.
Pecahan-pecahan batuan yang terbawa akibat erosi tidak dapat terbawa selamanya. Seperti halnya sungai akan bertemu laut, angin akan berkurang tiupannya, dan juga glasier akan meleleh. Akibat semua ini, maka pecahan batuan yang terbawa akan terendapkan. Proses ini yang sering disebut proses pengendapan. Selama proses pengendapan, pecahan batuan akan diendapkan secara berlapis dimana pecahan yang berat akan diendapkan terlebih dahulu baru kemudian diikuti pecahan yang lebih ringan dan seterusnya. Proses pengendapan ini akan membentuk perlapisan pada batuan yang sering kita lihat di batuan sedimen saat ini.
Pada saat perlapisan di batuan sedimen ini terbentuk, tekanan yang ada di perlapisan yang paling bawah akan bertambah akibat pertambahan beban di atasnya. Akibat pertambahan tekanan ini, air yang ada dalam lapisan-lapisan batuan akan tertekan sehingga keluar dari lapisan batuan yang ada. Proses ini sering disebut kompaksi. Pada saat yang bersamaan pula, partikel-partikel yang ada dalam lapisan mulai bersatu. Adanya semen seperti lempung, silika, atau kalsit diantara partikel-partikel yang ada membuat partikel tersebut menyatu membentuk batuan yang lebih keras. Proses ini sering disebut sementasi. Setelah proses kompaksi dan sementasi terjadi pada pecahan batuan yang ada, perlapisan sedimen yang ada sebelumnya berganti menjadi batuan sedimen yang berlapis-lapis. Batuan sedimen seperti batu pasir, batu lempung, dan batu gamping dapat dibedakan dari batuan lainnya melalui adanya perlapisan, butiran-butiran sedimen yang menjadi satu akibat adanya semen, dan juga adanya fosil yang ikut terendapkan saat pecahan batuan dan fosil mengalami proses erosi, kompaksi dan akhirnya tersementasikan bersama-sama.
Pada kerak bumi yang cukup dalam, tekanan dan suhu yang ada sangatlah tinggi. Kondisi tekanan dan suhu yang sangat tinggi seperti ini dapat mengubah mineral yang dalam batuan. Proses ini sering disebut proses metamorfisme. Semua batuan yang ada dapat mengalami proses metamorfisme. Tingkat proses metamorfisme yang terjadi tergantung dari:
1. Apakah batuan yang ada terkena efek tekanan dan atau suhu yang tinggi.
2. Apakah batuan tersebut mengalami perubahan bentuk.
3. Berapa lama batuan yang ada terkena tekanan dan suhu yang tinggi.
Dengan bertambahnya dalam suatu batuan dalam bumi, kemungkinan batuan yang ada melebur kembali menjadi magma sangatlah besar. Ini karena tekanan dan suhu yang sangat tinggi pada kedalaman yang sangat dalam. Akibat densitas dari magma yang terbentuk lebih kecil dari batuan sekitarnya, maka magma tersebut akan mencoba kembali ke permukaan menembus kerak bumi yang ada. Magma juga terbentuk di bawah kerak bumi yaitu di mantle bumi. Magma ini juga akan berusaha menerobos kerak bumi untuk kemudian berkumpul dengan magma yang sudah terbentuk sebelumnya dan selanjutnya berusaha menerobos kerak bumi untuk membentuk batuan beku baik itu plutonik ataupun vulkanik.
http://doddys.files.wordpress.com/2008/02/extrusive.jpgKadang-kadang magma mampu menerobos sampai ke permukaan bumi melalui rekahan atau patahan yang ada di bumi. Pada saat magma mampu menembus permukaan bumi, maka kadang terbentuk ledakan atau sering disebut volcanic eruption. Proses ini sering disebut proses ekstrusif. Batuan yang terbentuk dari magma yang keluar ke permukaan disebut batuan beku ekstrusif. Basalt dan pumice (batu apung) adalah salah satu contoh batuan ekstrusif. Jenis batuan yang terbentuk akibat proses ini tergantung dari komposisi magma yang ada. Umumnya batuan beku ekstrusif memperlihatkan cirri-ciri berikut:
1. Butirannya sangatlah kecil. Ini disebabkan magma yang keluar ke permukaan bumi mengalami proses pendinginan yang sangat cepat sehingga mineral-mineral yang ada sebagai penyusun batuan tidak mempunyai banyak waktu untuk dapat berkembang.
2. Umumnya memperlihatkan adanya rongga-rongga yang terbentuk akibat gas yang terkandung dalam batuan atau yang sering disebut “gas bubble”.
Batuan yang meleleh akibat tekanan dan suhu yang sangat tinggi sering membentuk magma chamber dalam kerak bumi. Magma ini bercampur dengan magma yang terbentuk dari mantle. Karena letak magma chamber yang relatif dalam dan tidak mengalami proses ekstrusif, maka magma yang ada mengalami proses pendinginan yang relatif lambat dan membentuk kristal-kristal mineral yang akhirnya membentuk batuan beku intrusif. Batuan beku intrusif dapat tersingkap di permukaan membentuk pluton. Salah satu jenis pluton terbesar yang tersingkap dengan jelas adalah batholit seperti yang ada di Sierra Nevada - USA yang merupakan batholit granit yang sangat besar. Gabbro juga salah satu contoh batuan intrusif. Jenis batuan yang terbentuk akibat proses ini tergantung dari komposisi magma yang ada. Umumnya batuan beku intrusif memperlihatkan cirri-ciri berikut:
1. Butirannya cukup besar. Ini disebabkan magma yang keluar ke permukaan bumi mengalami proses pendinginan yang sangat lambat sehingga mineral-mineral yang ada sebagai penyusun batuan mempunyai banyak waktu untuk dapat berkembang.
2. Biasanya mineral-mineral pembentuk batuan beku intrusif memperlihatkan angular interlocking.
Proses-proses inilah semua yang terjadi dimasa lampau, sekarang, dan yang akan datang. Terjadinya proses-proses ini menjaga keseimbangan batuan yang ada di bumi.
Referensi :
• Oxford University Museum - http://www.oum.ox.ac.uk/
PENGEMBANGAN KAWASAN TEPIAN AIR - (WATERFRONT DEVELOPMENT)
21.58 in DAS
PENGEMBANGAN KAWASAN TEPIAN AIR - (WATERFRONT DEVELOPMENT)
Oleh: Danang Priatmodjo - Dosen Jurusan Arsitektur Universitas Tarumanagara
PENDAHULUAN
Pengembangan kawasan tepian air (waterfront development) merupakan
trend yang melanda kota-kota besar dunia sejak tahun 80-an, dan tampak
masih akan digemari sampai dasawarsa mendatang. Jenis pengembangan
ini dirintis sejak tahun 60-an oleh kota-kota pantai di Amerika yang
memanfaatkan lahan-lahan kosong bekas pelabuhan lama untuk dikembangkan
menjadi kawasan bisnis, hiburan, serta permukiman. Sukses Amerika
ini segera ditiru oleh kota-kota pelabuhan Eropa dan kemudian menyebar
ke segala penjuru dunia.
Beberapa hal yang menjadi kunci keberhasilan waaterfront development
adalah dibangkitkannya kembali kenangan lama akan kota yang didominasi
oleh kegiatan perairan, kemudahan pencapaian karena lokasinya yang
dekat dengan pusat kota, serta luar lahan yang cukup besar yang ada
pada saat ini sudah sulit ditemukan lagi di dalam kota yang semakin padat.
Dengan latar belakang yang agak berbeda, kecenderungan membangun kawasan
tepian air ini juga telah melanda kota-kota besar di Indonesia, terutama
Jakarta. Keberhasilan reklamasi pada rawa-rawa di pantai utara Jakarta
yang melahirkan sarana rekreasi Ancol telah mendorong pembangunan kawasan
tepian air lainnya seperti Pantai Mutiara dan Pantai Indah Kapuk.
LATAR BELAKANG
Kembali maraknya pembangunan di tepian air merupakan bagian perjalanan sejarah
yang panjang, yang mencatat kaitan antara kota dengan air, yaitu: hubungan
yang erat antara kota dengan air, kecenderungan untuk meninggalkan air,
serta kecenderungan untuk kembali ke air (Mayer dalam Vanreusel, 1990).
a. Hubungan yang erat antara kota dengan air.
Sejarah mencatat bahwa kota-kota lama selalu mempunyai hubungan yang besar,
sebab mengandalkan hubungan dengan kota-kota lain terutama untuk keperluan
perdangan melalui lalu lintas air. Oleh karenanya tidaklah mengherankan
apabila pelabuhan merupakan tempat yang penting pada sebuah kota, sehingga
sentral atau pusat kegiatan kota juga terletak di sekitarnya. Di kawasan
sentral ini terletak bangunan-bangunan umum yang penting, pasar, serta
ruang terbuka kota (plaza/central square).
Kegiatan di perairan dan pelabuhan, seperti hilir mudik kapal-kapal serta
bongkar muat barang, menjadi pemandangan yang menarik bagi warga kota.
Di sekitar pelabuhan selalu dibangun promenade atau esplanade, yaitu
pelataran yang ditinggikan untuk berjalan-jalan sambil melihat-lihat
pemandangan perairan.
b. Kecenderungan untuk meninggalkan air.
Kaitan yang erat antara kota dan air menjadi terganggu sejak industri
berkembang pesat di kota-kota besar dunia, yaitu sekitar pertengahan
abad 19. Volume kegiatan di pelabuhan menjadi berlipat ganda,
gudang-gudang besar bahkan pabrik-pabrik didirikan di sekitar pelabuhan.
Akibatnya pemandangan ke arah perairan menjadi terhalang. Pelabuhan
menjadi tempat yang tidak nyawan dan tidak aman bagi warga kota untuk
berjalan-jalan menikmati pemandangan. Sentra kotapun bergeser menjauhi
perairan.
Kemajuan teknologi melahirkan jenis-jenis kapal baru yang lebih besar
dengan peralatan yang lebih maju dan menuntut fasilitas dermaga serta
galangan kapal yang lebih besar. Untuk memenuhi tuntutan ini kota-kota tua
harus membangun pelabuhan baru, sehingga pelabuhan lamanya kosong dan
ditinggalkan. Kawasan luas yang kosong ini tidak jarang menjadi sarang
kriminalitas. Kecenderungan kota-kota besar untuk membangun jalan raya
bebas hambatan yang dibuat mengelilingi kota (ring road) ikut memperburuk
keadaan, sebab menjadikan kawasan pelabuhan semakin terisolasi
terpisah dari bagian kota lainnya.
c. Kecenderungan untuk kembali mendekati air.
Pertumbuhan kota yang pesat, terutama setelah Perang Dunia II, menyebabkan
banyak kota besar dunia menjadi demikian padat. Lahan di dalam kota menjadi
semakin langka. Kawasan pelabuhan lama yang kebanyakan berupa dok-dok dan
gudang-gudang yang telah ditinggalkan menjadi incaran investor untuk dapat
membangun dalam skala besar. Ukurannya yang luas dan letaknya yang dekat
dengan pusat kota merupakan kelebihan yang menjadikan kawasan ini sangat
potensial untuk dikembangkan sebagai sarana komersial. Hal lain yang
mendorong pengembangan kawasan tepian air adalah munculnya "kerinduan"
kepada suasana kehidupan perairan yang telah lama ditinggalkan.
Amerika merintis pembangunan kawasan eks-pelabuhan dengan proyek "Inner Marbor"
di Baltimore, Maryland pada tahun 60-an dan disusul dengan proyek serupa
di Boston serta kota-kota pelabuhan lainnya. Proyek-proyek ini dianggap
sebagai pelopor waterfront development yang kemudian menggejala di berbagai
belahan dunia sejak tahun 80-an.
PENGERTIAN
Wrenn (1983) mendefinisikan waterfront development sebagai "interface between
land and water". Di sini kata "Interface" mengandung pengertian adanya
kegiatan aktif yang memanfaatkan pertemuan antara daratan dan perairan. Adanya
kegiatan inilah yang membedakannya dengan kawasan lain yang tidak dapat
disebut sebagai waterfront development - meski memiliki unsur air - apabila
unsur airnya dibiarkan pasif. Dengan demikian pengertian waterfront
development dapat dirumuskan sebagai pengolahan kawasan tepian air yaitu
kawasan pertemuan antara daratan dan perairan dengan memberikan muatan
kegiatan aktif pada pertemuan tersebut.
Perairan yang dimaksud bisa berupa unsur air alami (laut, sungai, kanal, danau)
atau unsur air buatan (kolam, danau buatan). Sedangkan muatan kegiatan bisa
berupa aktivitas perairan seperti berperahu (dayung atau layar) atau
aktivitas pantai (pesisir, promenade, atau esplanade) yang memanfaatkan
pemandangan perairan. Pengertian waterforn development telah demikian
berkembang, sehingga mencakup pengembangan kawasan yang sama sekali jauh
dari sumber air alami. Sebagai contoh, dalam rangka Expo '82 di Knoxville,
Tennessee (USA), suatu kawasan bekas stasiun kereta api telah dirombak menjadi
sebuah taman air aktif yang dapat dikategorikan sebagai sebuah waterfront
development.
ASPEK DASAR PERANCANGAN
Dalam perancangan kawasan tepian air, terdapat dua aspek penting yang
mendasari keputusan-keputusan serta solusi rancangan yang dihasilkan. Kedua
aspek tersebut adalah faktor geografis serta konteks perkotaan (Wren,
1983 dan Toree, 1989).
a. Faktor Geografis
Merupakan hal-hal yang menyangkut geografis kawasan dan akan menentukan
jenis serta pola penggunaannya. Termasuk di dalam aspek ini adalah
- Kondisi perairan, yaitu jenis (laut, sungai, dst), dimensi dan
konfigurasi, pasang-surut, serta kualaitas airnya.
- Kondisi lahan, yaitu ukuran, konfigurasi, daya dukung tanah, serta
kepemilikannya.
- Iklim, yaitu menyangkut jenis musim, temperatur, angin, serta curah hujan.
b. Konteks perkotaan (Urban Context)
Merupakan faktor-faktor yang akan memberikan identitas bagi kota yang
bersangkutan serta menentukan hubungan antara kawasan waterfront yang
dikembangkan dengan bagian kota yang terkait. Termasuk dalam aspek ini
adalah:
- Pemakai, yaitu mereka yang tinggal, bekerja atau berwisata di kawasan
waterfront, atau sekedar merasa "memiliki" kawasan tersebut sebagai
sarana publik.
- Khasanah sejarah dan budaya, yaitu situs atau bangunan bersejarah yang
perlu ditentukan arah pengembangannya (misalnya restorasi, renovasi atau
penggunaan adaptif) serta bagian tradisi yang perlu dilestarikan.
- Pencapaian dan sirkulasi, yaitu akses dari dan menuju tapak serta
pengaturan sirkulasi didalamnya.
- Karakter visual, yaitu hal-hal yang akan memberi ciri yang membedakan
satu kawasan waterfront dengan lainnya. Ciri ini dapat dibentuk dengan
material, vegetasi, atau kegiatanl yang khas, seperti "Festival Market
Place" (ruang terbuka yang dikelilingi oleh kegiatan pertokoan dan
hiburan). Konsep festival ini pertama kali dibangun di proyek
Faneuil Hall, Boston, dan diilhami oleh dua jembatan toko kuno di
Italia, yaitu Ponte Vecchio di Firenze dan Ponte Riaalto di Venezia.
ELEMEN PERANCANGAN
Dalam mengolah kawasan tepian air, beberapa elemen dapat diberikan penekanan
dengan memberikan solusi disain yang spesifik, yang membedakan dengan olahan
kawasan lainnya atau yang dapat memberikan kesan mendalam sehingga selalu
dikenang oleh pengungjungnya. Di antara elemen-elemen penting dalam
waterfront development adalah:
a. Pesisir
Kawasan tanah atau pesisir yang landai/datar dan langsung bertasan dengan
air. Merupakan tempat berjemur atau duduk-duduk dibawah keteduhan pohon
(kelapa atau jenis pohon pantai lainnya) sambil menikmati pemandangan
perairan.
b. Promenade/Esplanade
Perkerasan di Kawasan tepian air untuk berjalan-jalan atau berkendara
(sepeda atau kendaraan tidak bermotor lainnya) sambil menikmati pemandangan
perairan. Bila permukaan perkerasan hanya sedikit di atas permukaan air
disebut promenade, sedangkan perkerasan yang diangkat jauh lebih tinggi
dari permukaan (sperti balkon) disebut esplanade. Pada beberapa tempat dari
promenade dapat dibuat tangga turun ke air, yang disebut "tangga pemandian"
(baptismal steps).
c. Dermaga
Tempat bersandar kapal/perahu yang sekaligus berfungsi sebagai jalan di atas
air untuk menghubungkan daratan dengan kapal atau perahu. Pada masa kini
dermaga dapat diolah sebagai elemen arsitektural dalam penataan kawasan
tepian air, dan diperluas fungsinya antara lain sebagai tempat berjemur.
d. Jembatan
Penghubung antara dua bagian daratan yang terpotong oleh sungai atau kanal.
Jembatan adalah elemen yang sangat populer guna mengekspresikan misi
arsitektural tertentu, misalnya tradisional atau hightech, sehingga sering
tampil sebagai sebuah scuilpture. Banyak jembatan yang kemudian menjadi
Lengaran (landmark) bagi kawasannya, misalnya Golden Gate di San Francisco
atau Tower Bridge di London.
e. Pulau buatan/bangunan air
Bangunan atau pulau yang dibuat/dibangun di atas air di sekitar daratan,
untuk menguatkan kehadiran unsur air di kawasan tersebut. Bangunan atau
pulau ini bisa terpisah sama sekali dari daarata, bisa juga dihubungkan
dengan jembatan yang merupakan satu kesatuan perancangan.
f. Ruang terbuka (urban space)
Berupa taman atau plaza yang dirangkaikan dalam satu jalinan ruang dengan
kawasan tepian air. Contoh klasik dari rangkaian urbaan space di kawasan
tepian air adalah Piazza de La Signoria yang dihubungkan dengan
Ponte Veccnio, di Firenze, serta Piazza San MMarco dengan Grand Canal,
di Venezia.
g. Aktivitas
Guna mendukung penataan fisik yang ada, perlu dirancang kegiatan untuk
meramaikan atau memberi ciri khas pada kawasan pertemuan antara daratan dan
perairan. "Floating market" misalnya, adalah kegiatan tradisional yang dapat
ditampilkan untuk menambah daya taarik suatu kawasan waterfront, sedang
festival market place adalah contoh paduan aktivitas (hiburan dan
perbelanjaan) dengan tata ruang waterfront (plaza atau urban space).
Selain itu juga terdapat jenis kegiatan yang bisa ditampilkan secara
berkala, misalnya festival perahu/gondola atau layang-layang.
FUNGSI
Mengingat bahwa salah satu sebab maraknya pembangunan di kawasna tepian air
disebabkan oleh langkahnya lahan perkotaan, maka fungsi-fungsi yang diberikan
pada proyek-proyek waterfront juga mencerminkan kebutuhan perkotaan pada
masa kini. Meski bisa dibedakan adanya berbagaai fungsi, namun pada suatu
kawasan tepian air bisa dihadirkan beberapa fungsi sekaligus. Sedangkan
fungsi-fungsi dimaksud antara lain adalah:
a. Hunian
Salah satu kelebihan hunian di kawasan tepian air adalah dimungkinkannya
untuk menambatkan kapal-kapal pribadi (boat/yacht) di sekitar rumah.
Bentuk hunian dapat berupa rumah-rumah tunggal atau berupa kondominium.
Jenis waterfront housing ini diperkenalkan di Port Grimaud, Prancis
(1966), kemudian di contoh diberbagai tempat, antara lain Port Louis,
Lousiana AS (1986) dan Pantai Mutiara, Jakarta (1987). Keberhasilan
proyek perumahan tepi air Pantai Mutiara telah mendorong pengembangan
proyek serupa di Pantai Indah Kaapuk dan perluasan Ancol.
b. Bisnis
Pembangunan kawasan bisnis berskala besar di kawasan tepian air, dipelopori
oleh proyek Battery City Park di New York, telah melambungkan citra
waterfront development sebagai urban project yaang menggejala di kota-kota
besar dunia sejak awal tahun 80-an. Menara-menara kantor dan hotel merupakan
unsur yang dominan dalam membentuk wajah kawasan tepian air. Wajah seperti
inilah yang kemudian bisa disaksikan antara lain di Canary Wharf - salah
satu bagian kawasan London Docklands atau CBD (Central Business District)
di kawasan Olympic Village, Barcelona. Sedangkan yang masih dalam tahap
konstruksi adalah kompleks Watertad di Rotterdam serta Dowtown Core
Portview di Marina Bay, Singapura.
c. Komersial dan hiburan
Sejak akhir tahun 60-an kawasan bekas pelabuhan lama di kota-kota pantai
Amerika telah berhasil dikembangkan menjadi sarana komersial dan hiburan/
rekreasi. Bekas bangunan dermaga atau gudang dimanfaatkan menjadi
pusat-pusat perbelanjaan. selain itu juga dibuat ruang terbuka (Plaza)
yang secara berkala diisi dengan kegiatan pertunjukan atau keramaian
lainnya. Solusi gaya Amerika ini banyak mewarnai penataan kawasan
tepian air kota-kota besar lain diseluruh dunia.
KESIMPULAN
Mengingat perkembangan yang terjadi di dunia internasional saat ini, serta
kecenderungan yang ada di Indonesia sendiri (antara lain dengan proyek
Ancol, Pantai Mutiaraa, dan Pantai Indah Kapuk), maka terlihat bahwa
pengembangan kawasan tepian air masih menunjukkan prospek yang cuukup cerah.
Untuk itu perlu diperhatikan hal-hal penting yang berkaitan dengan pembangunan
di kawasan tepian air, yaitu:
a. Keseimbangan Lingkungan
Berhubungan kawasan peraian mempunyai kondisi alamiah beserta ekosistemnya
yang spesifik, maka perlu dijaga agar faktor-faktor lingkungan ini dijaga
keseimbangannya. Perlu dibuatkan prasarana untuk mencegah erosi pantai,
serta perlu diadakan pengaturan sirkulasi air untuk mencegah terjadinya
banjir di areal yang dibangun atau kawasan sekitarnya. Habitat setempat
seperti jenis-jenis burung adan ikan perlu mendapatkan perhatian agar
tidak mengalami kepunahan.
b. Konteks perkotaan
Sebagai perantara antara periaran dan daratan, kawasan waaterfront perlu
menempaatkan diri sebagai bagian dari kota induknya, antara lain melalui
pencapaian yang mudah dan jelas serta struktur lingkungan (pola jalan,
susunan massa, dsb.) yang menghargai struktur bagian kota yang berdekatan.
Selain itu juga perlu mempertahankan ciri kota yang bersangkutan, melalui
pelestarian potensi budaya yang ada serta pelestarian bangunan yang bernilai
sejarah atau bernilai arsitektur tinggi.
c. Rencana induk pengembangan
Salah satu faktor penentu keberhasilan penataaan kawasan tepian air adalah
adanya rencana induk pengembangan kawasan tersebut. Adanya rencana induk ini
juga mempermudah usaha untuk menjaga keseimbangan lingkungan serta menjaga
keserasian dengan konteks kota yang ada. Dalam kasus pantai Jakarta,
terlihat tidak adanya rencana induk pengembangan kawasan pantai secara
terpadu dan menyeluruh. Masing-masing proyek (Ancol, Pantai Mutiara,
Pantai Indah Kapuk) membuat rencana pengembangan sendiri. Hal ini
berakibat sulitnya melakukan pengendalian terhadap adanya kemungkinan
dampak lingkungan yang disebabkan oleh adanya pola akses yang jelas
dari kota menuju ketiga proyek di atas. Contoh kasus Jakarta ini
menunjukkan betapa pentingnya sebuah rencana induk pengembangan yang
menyeluruh.
--------------
DAFTAR PUSTAKA
Al Naib, S.K.,
1991, London Dockland, Paast, present and future, Polytechnic of East London,
London.
Cutler, Laurance Stephans & Sherris Stephans Cutler,
1983, Recycling Cities for People - The Urban Design Process, Van
Nostrand Reinhold, New York.
Meyer, Han
1990, "Waterfront Renewal, an international Phonomonon" dalam Jef Vanreusel
(ed.), Antwerp - Reshaping a City, Blonde Artprinting International, s.l.
Priatmodjo, Danang,
1993, Urban Waterfront Development, Case Studies of Barcelona and Jakarta,
tesis-master KUL, Leuven
Torre, L. Azeo
1989, Waterfront Development, Van Nostrad Reinhold, New York
Wrenn, Douglas M.,
1983, Urban Waterfront Development, Urban Land Institute, Washington DC
*************************************************************************
Sekretariat Ikatan Arsitek Indonesia cabang Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Jakarta Design Center, lantai 6, Jalan Gatot Subroto no 53, Jakarta 10260
Telepon: 62-21-5495130 ext. 111 - Fax: 62-21-5304711 - BBS: 62-21-7512110
LAPORAN PRAKTIKUM PENGELOLAAN LAHAN MARJINAL
21.54 in Laporan Praktikum
Tugas laporan Ir. Rosmimi.Su
LAPORAN PRAKTIKUM PENGELOLAAN LAHAN MARJINAL
PRAKTIKUM DILAPANGAN KE PT. ARARA ABADI
Disusun
oleh:
IDU YHAW AMIR P
0506111298
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
PROGRAM STUDI ILMU TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS
2007
A.PENDAHULUAN
Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan perlu adanya praktek-praktek baik yang dilaksanakan dilabolatorium maupun dilapangan. Dengan demikian dapat menambah pengetahuan dan pengalaman mahasiswa. Apa yang terjadi dibangku kuliah tentu ada kaitannya dengan yang diamati dilapangan.
Kunjungan lapangan ke PT. ARARA ABADI dapat menambah ilmu pengetahuan, dengan adanya tanya jawab antara mahasiswa dengan pengawas/ staf PT. ARARA ABADI tersebut. Pada lahan tersebut banyak terdapat lahan marjinal yang belum dikelolah secara baik, dan masih diperlukan perbaikan sifat fisisk, kimia dan biologi tanah.
B. TUJUAN PRAKTIKUM.
Tujuan praktikum yang dilakukan ke PT. ARARA ABADI adalah Mahasiswa dapat melihat langsung kondisi lahan marjinal seperti tanah gambut, selanjutnya dapat menambah pengetahuan dalam pengelolaan lahan-lahan tersebut.
C. METODE PRAKTIKUM.
Metode yang dilakukan dalam praktikum ini adalah dengan melakukan tinjauan kelapangan dan menanyakan (Tanya jawab) dari hal-hal yang tidak dipahami dilapangan tersebut.
Diantara masalah-masalah yang dihadapi / ditanyakan antara lain :
Apa syarat-syarat tanah gambut dijadikan sebagai media tanam akasia?
Apa jenis-jenis akasia yang cocok ditanam pada tanah gambut?
Syarat-syarat tanah gambut dijadikan sebagai bahan tambang?
Adakah penanganan hasil limbah tanah gambut?
Berapa energi yang dihasilkan disetiap ton tanah gambut?
Jawaba-jawaban dari staf / pengawas PT. ARARA ABADI.
Apa syarat-syarat tanah gambut dijadikan sebagai media tumbuh akasia?
Tanah gambut merupakan tanah dengan tingkat kemasamannya sangat tinggi yaitu antara 3,5-5 dengan demikian perlu dilakukan berbagai upaya penanganan seperti pengapuran dan pemupukan, agar kondisi tanah bertambah baik, tanah gambut dengan kandungan air yang sedang. Kondisi lapisan pirit yang sedikit akan lebih baik untuk pertumbuhan tanaman.
Jenis-jenis akasia yang cocok pada tanh gambut?
Jenis-jenis akasia yang ditanam anatara lain :
Akasia clasik carva
Akasia magium
Akasia yokaliptus palita.
Namun yang paling cocok adalah jenis akasia clasik carva.
Syarat tanah gambut dijadikan sebagai bahan tambang?
Syaratnya adalah dengan melihat unsur kalori apakah banyak atau sedikit yang terkandung dalam tanah gambut itu. Disamping itu perlu juga dilihat kandungan abu tanah gambut tersebut, kandungan abu yang sedikit akan lebih baik karena dalam pengelolaan limbahnya tidak terlalu susah.
Adakah penanganan hasil limbah tanah gambut?
Penanganan yang dilakukan antara lain dalm penanganan abunya dimana abu-abunya ini dijadikan sebagai bahan pupuk untuk tanaman, karena kalau limbah ini tidak diolah akan menumpuk sangat banyak dan akhirnya dapat merusak lingkungan dan gangguan dalam bekerja.
Berapa energi yang dihasilkan disetiap ton tanah gambut?
Dalam pengolahan tanah gambut total energi yang dihasilkan ± 5500 kkal / kg gambut.dengan demikian ternyata banyak sekali energi yang dihasilkan disetiap ton tanah ganbut tersebut, energi yang dihasilkan ini dijadikan sumber bahan baker boiler.
TUGAS DASAR-DASAR ILMU TANAH JUDUL HISTOSOL (TANAH GAMBUT)
21.53 in Tugas
Tugas DDIT (I)
TUGAS DASAR-DASAR ILMU TANAH
HISTOSOL (TANAH GAMBUT)
Disusun oleh:
IDU YHAW AMIR P
0506111298
PROGRAM STUDI ILMU TANAH
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS RIAU
2008
BAB I
A. Latar Belakang
Tanah dibedakan dalam bentuk klasifikasi dan taksonomi. Dalam pembahasan ini dikenal dengan tata nama (unsure pembentukan nama ordo). Taksonomi tanah dikategorikan kedalam ; ordo, sub ordo, greatgroup, subgroup, family, dan seri.
Pada tema ini akan dibahas tentang; Potensi luasan daerah penyebaran Histosol khususnya di Riau dan Indonesia, proses pembentukan Histosol, sifat dan cirri Histosol, dan pengunaan Histosol.
BAB II
A. Pengertian Histosol
Histosol (tanah organic) asal bahasa yunani histories artinya jaringan. Histosol sama halnya dengan tanah rawa, tanah organic dan gambut.
Histosol mempunyai kadar bahan organic sangat tinggi sampai kedalaman 80 cm (32 inches) kebanyakan adalah gambut (peat) yang tersusun atas sisa tanaman yang sedikit banyak terdekomposisi dan menyimpan air.
Jenis tanah Histosol merupakan tanah yang sangat kaya bahan organik keadaan kedalaman lebih dari 40 cm dari permukaan tanah. Umumnya tanah ini tergenang air dalam waktu lama sedangkan didaerah yang ada drainase atau dikeringkan ketebalan bahan organik akan mengalami penurunan (subsidence).
Bahan organik didalam tanah dibagi 3 macam berdasarkan tingkat kematangan yaitu fibrik, hemik dan saprik. Fibrik merupakan bahan organik yang tingkat kematangannya rendah sampai paling rendah (mentah) dimana bahan aslinya berupa sisa-sisa tumbuhan masih nampak jelas. Hemik mempunyai tingkat kematangan sedang sampai setengah matang, sedangkan sapri tingkat kematangan lanjut.
Dalam tingkat klasifikasi yang lebih rendah (Great Group) dijumpai tanah-tanah Trophemist dan Troposaprist. Penyebaran tanah ini berada pada daerah rawa belakangan dekat sungai, daerah yang dataran yang telah diusahakan sebagai areal perkebunan kelapa dan dibawah vegetasi Mangrove dan Nipah.
Secara umum definisi tanah gambut adalah:
“Tanah yang jenuh air dan tersusun dari bahan tanah organik, yaitu sisasisa tanaman dan jaringan tanaman yang melapuk dengan ketebalan lebih dari 50 cm. Dalam sistem klasifikasi baru (Taksonomi tanah), tanah gambut disebut sebagai Histosols (histos = jaringan ).”
Gambar 1. Gambaran umum penampang lahan gambut tropika (Ilustrasi: Triana)
Pada waktu lampau, kata yang umum digunakan untuk menerangkan tanah gambut adalah tanah rawang atau tanah merawang. Di wilayah yang memiliki empat musim, tanah gambut telah dikelompokan dengan lebih rinci. Padanan yang mengacu kepada tanah gambut tersebut adalah bog, fen, peatland atau moor.
BAB III
A. Potensi Luas Histosol di Riau dan Indonesia
Indonesia memiiiki lahan gambut yang sangat luas, yaitu sekitar 21 juta hektar atau lebih dari 10% luas daratan Indonesia. Lahan gambut adalah merupakan salah satu sumber daya alam yang sangat penting dan memainkan peranan penting dalam perekonomian negara, diantaranya berupa ketersedian berbagai produk hutan berupa kayu maupun non-kayu. Disamping itu, lahanb ambut juga memberikan berbagai jasa lingkungan yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat, diantaranya berupa pasokan air, pengendalian banjir serta berbagai manfaat lainnya. Hutan rawa gambut juga berperan sangat penting dalam hal penyimpanan karbon maupun sebagai pelabuhan bagi keanekaragaman hayati yang penting dan unik.
Menyusutnya luasan lahan gambut akan memberikan dampak sosial, ekonomi dan kesehatan yang dahsyat bagi penduduk Indonesia. Sebagai contoh, kebakaran hutan yang terjadi di lahan gambut tidak saja menimbulkan kerugian secara ekonomi akan tetapi juga telah menyebabkan ratusan ribu penduduk mengalami gangguan kesehatan pernapasan yang memerlukan penanganan yang seksama. Susutnya luasan lahan gambut atau berbagai kerusakan yang dialami juga akan menyebabkan berkurangnya fungsi penting mereka sebagai pemasok air, pengendali banjir serta pencegah intrusi air laut ke daratan.
Jika tak dilakukan langkah antisipasi pencegahan serta penanganan kerusakan dan hilangnya lahan gambut tersebut, maka bahaya dan kerugian yang ditimbulkan kemudian tidak hanya menerpa penduduk Indonesia saja, akan tetapi juga akan menimbulkan implikasi lingkungan dan sosial yang berskala regional bahkan global. Jika karbon yang terkandung dalam gambut kemudian dilepaskan maka akan secara siginifikan menambah kadar karbon di atmosfir. Tidak hanya berdampak secara langsung untuk manusia, kerusakan lahan gambut juga akan berakibat langsung terhadap kehidupan keanekaragaman hayati didalamnya, termasuk jenis-jenis penting, seperti Orang utan, sekitar 300 jenis ikan serta lebih dari 2.500 jenis tumbuhan (sekitar 20% diantaranya diketahui sebagai tanaman obat). Banyak diantara jenis-jenis tersebut yang diketahui sangat tergantung kepada dan hanya ditemukan di lahan gambut.
LAHAN GAMBUT DAN KETERGANTUNGAN MASYARAKAT LOKAL
Kondisi di lapangan menunjukan bahwa banyak sekali masyarakat Indonesia yang sangat bergantung kepada nilai dan fungsi yang dikandungoleh lahan gambut. Produk hutan rawa gambut dijadikan sebagai sandaran utama kehidupan masyarakat, baik berupa kayu ataupun non-kayu, seperti buah-buahan, rotan, tanaman obat, dan ikan. Sebagian lahan gambut yang dangkal atau berdekatan dengan lahan mineral kemudian dijadikan sebagai wilayah pertanian. Sayangnya, kegiatan pembangunan yang tidak terkendali acapkali menimbulkan dampak yang sangat buruk bagi lahan gambut, dan pada akhirnya berimbas pula pada kehidupan masyarakat lokal yang hidupnya bergantung pada keberadaan lahan gambut.
Pembukaan hutan gambut dalam skala besar hanya akan menyisakan kemiskinan bagi masyarakat, bukan saja karena hilang atau menipisnya sumber daya pencaharian mereka, tetapi juga karena masyarakat lokal harus mensubstitusi atau bahkan menyediakan upaya dan dana tambahan untuk menggantikan fungsi dan manfaat lahan gambut yang menurun atau bahkan hilang akibat kegiatan perusakan tersebut.
LUAS LAHAN GAMBUT DI INDONESIA
Berbagai literatur, baik yang diterbitkan di Indonesia maupun di luar negeri, menyebutkan bahwa Indonesia memiliki lahan gambut tropis yang paling luas. Sementara secara keseluruhan, lahan gambut di Kanada dan Rusia masih lebih luas dibandingkan dengan Indonesia.
Lahan gambut di kedua negara tersebut termasuk lahan gambuttemperate yang memiliki kandungan serta kharakteristik yang berbeda dengan lahan gambut tropis. Meskipun semuanya sepakat bahwa Indonesia memiliki lahan gambut tropis yang terluas, namun mengenai berapa luas yang sebenarnya, para pakar ternyata berbeda pendapat. Hal tersebut nampaknya menjadi kelaziman, karena sebagaimana halnya dengan tipe habitat lainnya, misalnya mangrove, penentuan luas tersebut seringkali berbeda bergantung kepada parameter serta definisi yang dipakai untuk menentukan luasan suatu tipe habitat tertentu.
Untuk memberikan sumbangan pengetahuan mengenai luas lahan gambut di Sumatra dan Kalimantan, Wetlands International – Indonesia Programme dengan dukungan dari Proyek CCFPI, telah melakukan survey dan perhitungan luas lahan gambut serta kandungan karbonnya di Sumatra, Kalimantan dan Papua. Perhitungan tersebut didasarkan kepada interpretasi.
Citra Satelit dengan menggunakan teknik penginderaan jarak jauh yang dikombinasikan dengan jajak lapangan (ground truthing) yang dilakukan di beberapa lokasi terpilih.
Berdasarkan survey dan perhitungan terakhir dari Wahyunto et.al. (2005) tersebut, diperkirakan luas lahan gambut di Indonesia adalah 20,6 juta hektar. Luas tersebut berarti sekitar 50% dari luas seluruh lahan gambut tropika atau sekitar 10,8% dari luas daratan Indonesia. Jika dilihat penyebarannya, lahan gambut sebagian besar terdapat di Sumatra (sekitar 35%), Kalimantan (sekitar 30%), Papua (sekitar 30%) dan Sulawesi (sekitar 3%).
Tabel 1. Perkiraan luas lahan gambut di Indonesia menurut beberapa sumber
Penulis/Sumber Penyebaran Gambut (Juta ha) Total
Sumatera Kalimantan Papua Lainnya
Driessen (1978) 9,7 6,3 0,1 - 16,1
Puslittanak (1981) 8,9 6,5 10,9 0,2 26,5
Euroconsult (1984) 6,84 4,93 5,46 - 17,2
Soekardi & Hidayat (1988) 4,5 9,3 4,6 0,4 20,1
Deptrans (1988) 6,4 5,4 3,1 - 14,9
Nugroho et.al. (1992) 6,9 6,4 4,2 0,3 17,8
Radjagukguk (1993) 4,8 6,1 2,5 0,1 13,5*
Dwiyono & Rachman (1996) 7,16 4,34 8,40 0,1 20,0
* tidak termasuk gambut yang berasosiasi dengan lahan salin dan lahan lebak (2,46 juta hektar)
Di Pulau Sumatera, luas total lahan gambut pada tahun 1990 adalah 7,2 juta hektar atau sekitar 14,9% dari luas daratan Pulau Sumatera, dengan penyebaran utama di sepanjang dataran rendah pantai timur, terutama di Propinsi Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Sumatera Utara dan Lampung.
Dari luas tersebut, lahan yang tergolong sebagai tanah gambut, dimana ketebalannya > 50 cm., adalah seluas 6.876.372 ha. Sebagian besar diantaranya (3,461 juta - 48,1%) adalah berupa lahan gambut dengan kedalaman sedang (kedalaman antara 101 - 200 cm.) Gambut yang sangat dalam (kedalaman >400 cm.) menempati urutan terluas kedua seluas 2,225 juta ha. (30,9%). Meskipun luas total lahan gambut di Pulau Sumatera tidak berubah pada tahun 2002, namun jika dilihat dari komposisi kedalamannya telah mengalami perubahan, dimana yang tergolong sebagai tanah gambut (> 0,5 meter) telah mengalami penyusutan menjadi 6.521.388 ha. atau berkurang seluas 354.981 ha. (9,5%) dibandingkan dengan tahun 1990. Selain itu, gambut-sangat dalam juga berkurang luasnya menjadi 1,705 juta ha. (23,7%), sementara gambut-dangkal (ketebalan antara 50 - 100 cm.) luasnya justru bertambah dari 0,3777 juta ha. (5,2%) pada tahun 1990 menjadi 1,241 juta ha. (17,2%) pada tahun 2002.
Tabel 2. Luas sebaran lahan gambut dan kandungan karbon di Sumatra (1990 - 2002)
Sumatra (1990 - 2002)
1990 2002
Provinsi Luas Gambut (Ha) Kandungan Karbon
( juta ton ) Penyusunan Kandungan Karbon tahun 1960-2002
( juta ton )
1990 2002
Riau 4.043.601 16.851,23 14.605,04 2.246,23
Sumatera Selatan 1.483.662 1.798,72 1.470,28 328,43
Jambi 716.839 1.850,97 1.413,19 437.78
Sumatera Utara 325.295 560,65 377,28 183,37
NAD 274.051 561,47 458,86 102,61
Sumatera Barat 210.234 507,76 422,23 85,53
Lampung 87.567 60,33 35,94 24,39
Bengkulu 63.052 92,08 30,53 61,55
Sumber : Wahyunto et.al. 2005
Keterangan : * Didalamnya termasuk tanah mineral bergambut (kedalaman <50 cm) yang luasnya pada tahun 2002 sebesar 682.913 ha. dan pada tahun 1990 seluas 327.932 ha. Jika tanah mineral bergambut dianggap sebagai bukan tanah gambut,maka antara tahun 1990 sampai dengan tahun 2002 telah terjadi penurunan (hilangnya) luasan lahan gambut di Sumatra seluas 354.981 ha.
Angka kehilangan sebenarnya lebih terlihat pada menyusutnya kandungan karbon dalam gambut tersebut, dimana pada tahun 1990 kandungan karbon yang terdapat pada lahan gambut di seluruh Sumatra diperkirakan sebanyak 22.283 juta ton, yang kemudian menyusut menjadi 18.813 juta ton, atau kehilangan sebesar 3.470 juta ton dengan laju kehilangan ratarata per tahun sebesar 289,2 juta ton. Kehilangan karbon terbesar terjadi di gambut-sangat dalam, yaitu sebanyak 3.230 juta ton (93%).
Di Pulau Kalimantan, gambaran mengenai luasnya kehilangan lahan gambut tidak dapat dianalisa dengan baik karena tidak tersedianya data yang memadai pada kurun waktu tahun 1990.
Tabel 3. Luas sebaran gambut di Kalimantan berdasarkan kedalamannya (2002)
Propinsi Luas Gambut (ha) Kandungan Karbon
(Juta ton)
Kalimantan Barat 1.729.980 3.625,19
Kalimantan Tengah 3.010.640 6.351,52
Kalimantan Timur 696.997 1.211,91
Kaimantan Selatan 331.629 85,94
KALIMANTAN 5.769.246 11.274,55
Sumber: Wahyunto et.al. 2005
Berdasarkan analisa penginderaan jarak jauh, diperoleh gambaran bahwa luas lahan gambut di Pulau Kalimantan pada tahun 2000 - 2002 adalah 5.769.246 ha. Sebagian besar terdapat di Kalimantan Tengah (52,28%) dan Kalimantan Barat (29,99%). Jika dilihat dari tingkat kedalamannya, maka yang paling luas adalah gambut-dangkal (50 - 100 cm.) seluas 1.740.584 ha. (30,17%) dan gambut-sedang (100 - 200 cm.) seluas1.390.787 ha. (24,11%). Sementara itu, gambut-dalam sekali (> 800 cm) luasnya 277.694 ha. (4.81%). Lahan gambut di Kalimantan tersebut diperkirakan mengandung karbon sejumlah 11.274,55 juta ton, Propinsi Luas Gambut (ha) dimana kandungan yang paling tinggi (47,97%) terdapat di gambut-sangatdalam.
Disamping itu, meskipun gambut -dalam-sekali luasnya paling kecil tetapi memiliki kandungan karbon kedua terbesar sejumlah 19,04% Menyusutnya luasan gambut secara keseluruhan serta menyusutnya luasan gambut yang lebih dalam, yang kemudian berimbas kepada menyusutnya kandungan karbon di dalamnya, dipercayai merupakan akibat dari berbagai kegiatan yang terkait dengan berbagai aktifitas
manusia.
Beberapa kegiatan terkait, diantaranya:
• Alih fungsi lahan gambut menjadi lahan budi daya yang dilaksanakan secara intensif, seperti sawah dan areal pertanian lainnya.
• Pembukaan lahan gambut untuk dijadikan areal perkebunan, diantaranya yang paling umum adalah perkebunan sawit dan HTI.
• Sistem drainase yang mengakibatkan pemadatan dan mempercepat terjadinya oksidasi atau dekomposisi bahan organic.
• Penurunan ketebalan gambut akibat pembakaran atau pengeringan.
• Hilangnya air di lahan gambut akibat pembuatan saluran/parit, sehingga gambut menjadi mudah terbakar atau mengalami subsiden.
LAHAN GAMBUT DI KALIMANTAN TENGAH
Masyarakat di Kalimantan Tengah sebagian diantaranya tinggal di rumah yang dibangun disepanjang aliran sungai. Sebagaimana masyarakat Indonesia lainnya yang hidup di sepanjang sungai dan sekitar hutan, sebagian masyarakat di Kalimantan Tengah juga secara turun temurun sangat menggantungkan kehidupannya pada ketersediaan sumber daya alam di sekitar tempat mereka tinggal. Mereka juga terbiasa untuk menanam berbagai jenis tanaman, seperti rotan dan jenis-jenis tanaman buah-buahan di lahan adat mereka.
Hutan rawa gambut dengan sistem tata airnya yang unik juga menyediakan sumber daya hayati lain, yaitu berupa ikan, yang sebagian diantaranya hanya bisa ditemukan di perairan gambut. Untuk memperoleh ikan, masyarakat Kalimantan Tengah biasanya membuat sistem tata air serupa kolam panjang di dekat atau dalam hutan, yang biasa disebut sebagai beje, sedemikian rupa sehingga dapat memerangkap ikan yang terbawa pada saat air melimpah. Berbagai kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat lokal sebenarnya memberikan pengaruh yang tidak terlalu besar bagi ekosistem gambut, sepanjang kegiatan tersebut hanya untuk memenuhi kebutuhan domestik mereka.
Sayangnya, ekosistem gambut di Kalimantan Tengah menjadi sangat terancam ketika kegiatan penggundulan hutan skala besar mulai dilakukan, termasuk diantaranya ketika pemerintah memutuskan untuk membuka lahan gambut seluas lebih dari satu juta hektar. Kegiatan yang kemudian dikenal sebagai Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PLG) tersebut dimulai pada tahun 1996 dengan ide dasar untuk mengkonversikan lahan gambut tersebut menjadi areal persawahan.
Dalam pelaksanaannya, proyek PLG kemudian juga membuka lahan gambut-dalam dan sangat-dalam yang sangat rentan terhadap gangguan dengan cara membuat saluran sepanjang sekitar 4.500 km. Tujuan utama pembuatan saluran tersebut adalah untuk keperluan penyediaan air pada saat musim kemarau serta membuang air berlebih pada musim hujan. Tujuan tersebut boleh dikatakan gagal karena alih-alih mengatur tata air, saluran tersebut justru membuang air dari lahan gambut dan dengan demikian menghilangkan karakteristik gambut sebagai penyimpan air.
Hanya dalam dua tahun kekeliruan tersebut sudah mulai terlihat, dimana beberapa saluran sudah mulai kering dan pematang saluran runtuh. Meskipun beberapa saluran masih digunakan sebagai sarana transportasi, tetapi sebagian besar ekosistem sudah rusak, kayu telah ditebangi serta lahan gambut menjadi kering dan sangat mudah terbakar. Salah satu pihak yang paling merasakan akibat dari kondisi lahan dan hutan rawa yang telah rusak tersebut adalah masyarakat lokal. Mereka kehilangan sumber daya alam yang sebelumnya dapat menunjang kehidupan sehari-hari sehingga kehidupan masyarakat, baik penduduk asli maupun transmigran, menjadi serba sulit. Hal ini tentu saja sangat bertolak belakang dengan tujuan awal dari proyek PLG yang konon diperuntukan untuk kesejahteraan masyarakat.
LAHAN GAMBUT DI SUMATRA SELATAN DAN JAMBI
Ekosistem lahan basah di kawasan Taman Nasional Berbak (Jambi) dan Taman Nasional Sembilang (Sumatra Selatan) mencakup sekitar 350.000 hektar, yang terdiri dari hutan rawa gambut, hutan rawa air tawar dan mangrove. Keduanya merupakan salah satu kesatuan ekosistem lahan basah yang paling penting di Asia Tenggara. Di bagin utara dari kesatuan ekosistem tersebut adalah Taman Nasional Berbak, yang pada tahun 1991 diikrarkan sebagai situs Ramsar pertama di Indonesia. Sementara itu, di bagian selatan merupakan kawasan Taman Nasional Sembilang, Sumatra Selatan.
Kedua Taman Nasional tersebut serta sebagian mintakat penyangganya, termasuk hutan rawa gambut Merang Kepayang, merupakan perwakilan dari hutan rawa gambut alami yang masih tersisa di Sumatra dan penyimpan karbon yang sangat penting. Lebih dari itu, masyarakat yang tinggal di mintakat penyangga juga sangat bergantung kepada keberadaan dan jasa lingkungan yang disediakan oleh hutan rawa gambut tersebut.
Kelestarian hutan rawa gambut akan sangat terkait dengan pengembangan strategi pemanfaatan sumber daya hutan rawa gambut yang berkelanjutan, karena kelestarian mereka juga terancam oleh semakin berkembangnya kegiatan pertanian yang disertai dengan pengeringan dan pembakaran hutan rawa gambut.
ISU PENGELOLAAN
Selama dekade terakhir ini banyak areal lahan gambut yang telah dibukauntuk berbagai kepentingan, utamanya untuk kegiatan pertanian dan perkebunan. Dalam skala yang lebih kecil, kegiatan pertanian dilaksanakan melalui program penempatan transmigran di wilayah lahan gambut, khususnya di Sumatra dan Kalimantan, sementara dalam skala yang lebih besar, pembukaan lahan gambut ditujukan untuk mengambil tegakan kayu diatasnya serta untuk keperluan pengembangan perkebunan, terutama Kelapa sawit. Tidak sedikit kegiatan pembukaan tersebut lebih dilatarbelakangi oleh kepentingan ekonomi jangka pendek dan mengalahkan pertimbangan lingkungan yang bernuansa kepentingan jangka panjang untuk lebih banyak masyarakat, sehingga yang kemudian dihasilkan adalah sejumlah kegagalan dan kerugian bagi negara dan masyarakat, tetapi mendatangkan keuntungan besar bagi pengembang yang dihasilkan dari ekstraksi tegakan kayu diatasnya.
Tak kurang upaya pemerintah maupun pihak lainnya untuk mengurangi dampak buruk jangka panjang dari pengembangan di lahan gambut, termasuk yang terkait dengan isu perubahan lingkungan. Namun pada saat yang sama, tak kurang pula kebijakan pemerintah yang diiringi dengan ketidakberdayaan penegakan hukum dan ketidakpedulian masyarakat yang kemudian memacu kerusakan dalam jangka panjang.
Memang tidak selalu mudah untuk membagi perhatian antara kepentingan ekonomi dan kepentingan lingkungan, terutama pada saat Indonesia berada dalam kondisi sangat membutuhkan investasi dan penggerak roda pembangunan, meskipun pada saat yang sama Indonesia telah menyatakan untuk mengadopsi konsep pembangunan berkelanjutan.
ISU LAHAN GAMBUT DAN PERUBAHAN IKLIM
Kepentingan lahan gambut di Indonesia dapat dikaitkan dengan perannyasebagai penangkap dan penyimpan karbon. Dengan penghitungan konservatif luas lahan gambut Indonesia seluas 16 juta hektar, dan diasumsikan rata-rata kedalamannya 5 meter, maka Murdiyarsoetal (2003) memperkirakan bahwa cadangan karbon yang disimpan di gambut adalah sekitar 16 Giga Ton. Dalam kondisi alami, tanpa adanya gangguan yang signifikan, CO2 akan disimpan sebagai cadangan karbon organic dalam biomassa yang tersimpan di lahan gambut, sehingga akan sangat bermanfaat dalam menahan emisi gas rumah kaca ke atmosfir. Namun kebalikannya, dalam kondisi dimana pembukaan lahan gambut dan drainase berlebihan maka justru lahan gambut Indonesia kemudian akan memberikan sumbangan emisi gas rumah kaca yang signifikan. Berbagai penelitian telah menunjukan hal tersebut sebagai kenyataan yang telah terjadi.
Komunikasi Nasional Pertama Indonesia yang ditujukan kepadaUNFCCC, diterbitkan pada tahun 1999, menunjukan bahwa CO2 adalah merupakan emisi gas rumah kaca yang utama di Indonesia, sekitar 83% dari emisi setara CO2. Pada tahun 1994, sektor LULUCF bertanggung jawab terhadap 63% sumber emisi CO2 (Pelangi 2001), suatu peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan dengan kondisi serupa pada tahun1990, sebesar 48% (Pelangi 2000). Salah satu penyebab utama dari pelepasan karbon pada sektor tersebut adalah adanya pembukaan hutan (termasuk hutan gambut) untuk berbagai keperluan, utamanya pertanian dan perkebunan. Lahan dan hutan gambut yang telah dibuka dan didrainase kemudian akan mengalami subsiden serta kekeringan, yang akan sangat rentan terhadap kebakaran hutan dan lahan, karena melepaskan karbon ke atmosfir sehingga menimbulkan apa yang disebut efek gas rumah kaca, yang memicu perubahan iklim global.
Suatu studi menunjukan bahwa kebakaran hutan dan lahan pada tahun 1997/1998 telah menghanguskan lebih dari 1,45 juta hektar lahan gambut di seluruh Indonesia. Kebakaran tersebut tidak saja telah melepaskan sekitar 0,81 – 2,57 GtC (Page et.al. 2002), tapi juga diidentifiksi sebagai sumber utama penyebaran asap di lingkup regional Asia Tenggara, sehingga mengakibatkan kerugian lebih dari AS $ 9 milyar dan mempengaruhi kehidupan lebih dari 75 juta orang (Bappenas 1999).
Laporan menyampaikan bahwa enam dari tujuh wilayah yang rawan terbakar di Sumatra berada di lahan gambut (Anderson and Bowen 2000). Meskipun Indonesia telah mengambil langkah untuk mencegah dan menangani kebakaran, namun hal tersebut masih belum mencukupi, terbukti dengan masih terjadinya kebakaran di berbagai lokasi, yang sebenarnya sudah menjadi langganan terbakar setiap tahunnya. Di tingkat global, meskipun telah tersedia berbagai data hasil penelitian, peranan lahan gambut sebagai salah satu sumber emisi gas rumah kaca belum juga memperoleh perhatian secara institusional.
Meskipun negara-negara ASEAN telah mengambil langkah institusional, tetapi UNFCCC, misalnya, masih belum memasukan hal tersebut sebagai salah satu isu perubahan iklim yang penting. Kondisi tersebut sebetulnya sangat memprihatinkan karena Indonesia sangat memerlukan komitmen dan kewajiban negara lain untuk turut mengatasi permasalahn kebakaran yang telah menyangkut hajat hidup manusia secara global.
EKSPLOITASI LAHAN GAMBUT
Selama lebih dari 30 tahun terakhir ini hutan rawa gambut telah mengalami pembalakan, pengeringan dan perusakan dahsyat akibat adanya berbagai kegiatan pertanian dan kehutanan yang tidak berkelanjutan. Kegiatan pembalakan, baik resmi maupun liar, seringkali melibatkan pengeringan gambut selama proses ektraksinya. Celakanya, meskipun sebagian besar tanah gambut (khususnya yang memiliki kedalaman lebih dari 2 meter) sebenarnya merupakan lahan marjinal yang tidak layak untuk kegiatan pertanian, namun kenyataannya banyak juga yang telah dibuka dan dikembangkan untuk pertanian dan perkebunan, khususnya untuk kelapa sawit, kayu bahan bubur kertas, padi serta komoditi pertanian lainnya. Tak heran jika banyak diantaranya yang kemudian berujung pada kegagalan dan akhirnya ditelantarkan.
KEBAKARAN DI LAHAN GAMBUT
Pada kondisi alaminya yang basah, lahan gambut sebenarnya sangat sulit untuk mengalami kebakaran. Kondisi di lapangan menunjukan bahwa kebakaran hanya terjadi pada lahan gambut yang telah mengalami pengeringan atau pada kondisi musim yang benar-benar kering. Selama 10 tahun terakhir, sekitar 2,5 juta hektar lahan gambut di Asia Tenggara, sebagian besar terdapat di Indonesia, telah terbakar dan melepaskan 2 – 3 milyar ton karbon ke atmosfir, menyelimuti wilayah Asia Tenggara dengan asap pekat. Kebakaran yang berasal dari lahan pertanian dan perkebunan di lahan gambut tersebut tidak saja meninmbulkan kerugian ekonomi, tapi juga kerugian kesehatan yang sangat menyengsarakan masyarakat, terutama di sekitar lokasi kebakaran. Terkait dengan kerugian ekonomi, gangguan terhadap industri perikanan, turisme, penerbangan dan dana yang dikeluarkan untuk mengatasi dampak kebakaran yang terjadi antara bulan Agustus hingga Oktober 1997 diperkirakan mencapai 300 juta dollar Amerika di Malaysia saja. Sementara itu, kerugian di seluruh wilayah Asia Tenggara akibat kebakaran pada tahun 1997 – 1998 diperkirakan mencapai 9 milyar dollar Amerika. Pada kurun waktu tahun 1997 – 1998 tersebut, kebakaran hampir selalu terjadi di wilayah yang mengalami kekeringan lebih dari 2 – 3 minggu.
Gambar 2. Kebakaran lahan gambut di Kalimantan Tengah (Foto: Yus Rusila Noor)
Histosol (histos, jaringan tanaman, solum, tanah). Bahan organik yang didekomposisi dari jaringan tanaman pada umumnya membentuk tanah ini. Berdasarkan Soepraptohardjo (1961a; 1961b). Organosols termasuk dalam tipe ini. Jenis tanah ini lebih popular disebut tanah gambut. Mereka kebanyakan ditemukan di Riau, Sumatera (3.87 juta ha), Irian Jaya (3.3 juta), Kalimantan Tengah (1.99 juta), Kalimantan Barat (1.70 juta ha) dan Sumatera Selatan (1.45 juta ha).
B. Proses Pembentukan Histosol
Gambut terbentuk akibat proses dekomposisi bahan-bahan organik tumbuhan yang terjadi secara anaerob dengan laju akumulasi bahan organik lebih tinggi dibandingkan laju dekomposisinya. Akumulasi gambut umumnya akan membentuk lahan gambut pada lingkungan jenuh atau tergenang air, atau pada kondisi yang menyebabkan aktivitas mikroorganisme terhambat. Vegetasi pembentuk gambut umumnya sangat adaptif pada lingkungan anaerob atau tergenang, seperti bakau (mangrove), rumput-rumput rawa dan hutan air tawar.
Di daerah pantai dan dataran rendah, akumulasi bahan organik akan membentuk gambut ombrogen di atas gambut topogen dengan hamparan yang berbentuk kubah (dome). Gambut ombrogen terbentuk dari vegetasi hutan yang berlangsung selama ribuan tahun dengan ketebalan hingga puluhan meter. Gambut tersebut terbentuk dari vegetasi rawa yang sepenuhnya tergantung pada input unsur hara dari air hujan dan bukan dari tanah mineral di bawah atau dari rembesan air tanah, sehingga tanahnya menjadi miskin hara dan bersifat masam.
C. Sifat dan ciri Histosol
Sifat tanah gambut berbeda dengan tanah mineral lainnya dan untuk menanam/membuka lahan seperti ini memerlukan tindakan pengelolaan khusus.
Sifat tanah gambut antara lain :
Kandungan bahan organic yang tinggi karena tanah berasal dari sisa tanaman mati dalam keadaan penggenanangan permanent. Berat isi pada (bulk dencity) sangat rendah sehingga dalam keadaan kering kosentrasinya sangat lepas kadar hara makro tidak seimbang dengan kadar hara mikro yang sangat rendah. Daya menahan air sangat besar dan jika mengalami kekeringan, tanah mengalami pengerutan(irreversible shringkage). Jika dilakukan pembuangan air(drainase) permukaan tanah akan mengalami penurunan(soil subsidence).
Sifat khusus Histosol tergantung pada sifat vegetasi yang diendapkan di dalam air dan tingkat pembususkan. Di dalam air yang relative dalam, sisa-sisa ganggang dan tumbuhan air lainnya menimbulkan bahan koloid yang sangat mengerut bila kering.
Sementara danau secara berangsur-angsur penuh, rumput, padi liar, lili air dan tumbuhan-tumbuhan ini yang sebagian membusuk, berlendir dan bersifat koloid.
D. Penggunaan Histosol (Lahan Gambut)
Di negara-negara bagian sebelah utara, tanah Histosol ini digunakan untuk menghasilkan bawang, seledri, mint, kentang, kol, kranberi, wortel, dan tanaman umbi lainnya. Sedangkan di Indonesia sendiri tanah histosol digunakan untuk menghasilkan nenas dan lidah buaya.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Anonin. 2006 Histosol. http://bbsdlp.litbang.deptan.go.id/index.php?option=com_content &task= view&id=13&Itemid=73. Diakses pada tanggal 13 september 2008.
Darmawijaya, isa. M, 1990, Klasifikasi Tanah. Yogyakarta; Gadjahmada University Press.
Noor Y. R. dan J. Heyde. 2007. Pengelolaan Lahan Gambut Berbasis Masyarakat di Indonesia. Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT). Indonesia
Sanchez, A. Pedro, 1992, Sifat dan pengelolaan tanah Tropika. Bandung; ITB Bandung. Foth, henry. D, 1994, Dasar-dasar Ilmu Tanah. Jakarta; Erlangga